Misteri mimpi

Kecil dan alamiah memang apabila manusia kerapkali mengalami mimpi. Tapi dibalik
kejadian alamiah yang berlangsung terus menerus tersebut, justru tersimpan sebuah misteri yang cukup menarik untuk dibahas bahkan di kalangan para ahli dan pakar ilmu pengetahuan dunia.

Berbagai pendapat pernah muncul menanggapi apa wujud mimpi sebenarnya. Mimpi kita
seringkali timbul dari bentuk rangsangan verbal, visual maupun emosi, yang kemudian
membentuk cerita tak masuk akal tapi kerapkali menarik pada saat kita tidur, bahkan kita bisa
memecahkan solusi pada saat kita bermimpi, setidaknya sebagian orang mempercayai hal itu
kerapkali terjadi.

Ilmuwan belum memiliki ide yang dapat menggambarkan apa arti dan kegunaan mimpi itu
sendiri secara sistematis, ataukah itu hanya sebuah gambaran acak dari impuls otak, ataukah
merupakan untaian cerita yang memang dilakukan recall memory oleh otak, atau ada alasan
lain?? (Sebab kita juga sering mendengar istilah dejavu).

Membahas mengenai mimpi yang juga seringkali dibahas secara psychoanalytic, kita juga
harus secara biologist mengenal yang namanya tidur, cara kerja otak, dan tahapan kerja tersebut pada saat kita tertidur. Disini kita akan sedikit membahas mengenai hal tersebut secara AGAK spesifik.

Otak manusia dipercaya dapat menghasilkan 4 jenis gelombang yang juga dikenal sebagai
Delta, Theta, Alpha dan Beta. Setiap jenis gelombang menyatakan perbedaan kecepatan getaran
listrik pada otak manusia. Delta adalah yang ter-pelan, yakni berkisar antara 0-4 getaran perdetik,
jenis getaran ini hanya akan muncul pada saat manusia berada pada fase tidur Deep Sleep, yang
mana otaknya akan bekerja lebih lambat. Disusul kemudian dengan Theta yang bergetar dengan
kecepatan 4-7 getaran perdetik yang kerapkali muncul pada saat manusia memasuki fase tidur
Light Sleep. Gelombang berikutnya adalah Alpha yang memiliki getaran secepat 8-13 getaran
perdetik, dan akan timbul pada saat otak bekerja (Kita tersadar / REM). Yang tercepat adalah
Beta waves, dimana dia memiliki kecepatan 13-40 getaran perdetik dan hanya akan timbul
pada saat manusia sedang mengalami masa stress ataupun membutuhkan kekuatan mental yang tegar, getaran yang lebih cepat dr 40 getaran perdetik mampu menyebabkan kerusakan mental /kejiwaan.

Keempat gelombang otak tadi adalah dasar pembentuk electroencephalogram (EEG)
Disaat tidur, manusia mengalami 5 fase tidur, yang dibagi menjadi demikian:
1. Light Sleep - Dimana otot otot tubuh mulai melakukan relaxation, dengan masih
mengandung sedikit gerakan otot. Tidur pada tahap ini seringkali masih mudah
terbangun, sebagian orang di Indonesia mengenalnya sebagai "tidur ayam" or something
like that.
2. Deeper Sleep - Pada fase ini, tidak hanya otot yang mulai melakukan relaxation, akan
tetapi kecepatan bernafas dan denyut jantung pun menjadi lebih lambat, disertai dengan
turun nya suhu tubuh.
57
3. Deep Sleep [Stage 1] - Pada fase ini, selain suhu tubuh menurun, otot relaxation dan
bernafas serta denyut jantung mulai terasa lebih pelan, otakpun memulai menghasilkan
gelombang delta.
4. Deepest Sleep [Stage 2] - Kenapa dikatakan stage 2?! Karena memiliki ciri yang bisa
dikatakan sama persis seperti fase Deep Sleep, hanya saja dalam kondisi ini, tubuh sudah
benar benar terbiasa dengan kondisi tersebut, sehingga manusia tidur dalam kondisi
sangat lelap pada fase ini.
5. Rapid Eye Movement (REM) - Berbeda dengan kondisi tidur yang lain, pada saat
mencapai fase REM, otak manusia tidak dapat dikatakan beristirahat. Otak akan
memproduksi gelombang otak jenis Alpha, nafas menjadi cepat, suhu tubuh sedikit
meningkat, dan walaupun otot tetap dalam keadaan relax, denyut jantung kembali
menjadi aktif. Pada fase inilah mimpi timbul dalam tidur manusia.

Pada tahap REM itulah manusia biasanya mengalami mimpi, sebab pada faae tersebut,
manusia dapat menonaktifkan steam otak yang tidak akan pernah di nonaktifkan pada saat
manusia beraktifitas.

Sebuah kenyataan menyimpulkan bahwa 5 menit sesudah sebuah mimpi berakhir, manusia
akan melupakan setidak tidaknya 40-50% bagian dari mimpi mereka. Dan 10 menit sesudahkan
mereka bisa melupakan 80-90% bagian dari apa yang mereka impikan. Kenapa hal demikian
dapat terjadi?! Mimpi kembali ditekankan merupakan memory recall yang kemudian ditampilkan oleh otak melalui sistematik kerja secara psikologis, dan kebanyakan daripada itu adalah bukan hal yang penting, sehingga otak tidak akan dapat selalu mengingat apa yang telah kita mimpikan pada saat kita tidur.

Riset lainpun menyatakan bahwa manusia merupakan mahkluk hidup yang berpikir secara
progresif, sehingga menimbulkan keraguan dan kesulitan disaat mereka ingin mengingat sesuatu
begitu mereka terjaga dari tidur. Dalam beberapa kasus, khususnya mereka yang memiliki
tingkatan memory Short Term Memory, justru kerapkali tidak akan ingat apa mereka bermimpi
atau tidak disaat tidur.

Crazy club inc